Dengan
simbiose aquakultur dan hidroponik para pakar pertanian Jerman berusaha
memecahkan masalah krisis pangan dan kelangkaan air.

Hidangan ikan bersaus tomat, sebagai lambang pertanian aquaponik kolam ikan dan tanaman tomat di IBG Berlin.
Sektor
pertanian kini menghadapi masalah pelik, gara-gara pertumbuhan penduduk
dunia yang meningkat drastis. Di saat permintaan terus melonjak, lahan
pertanian semakin menyempit. Ditambah lagi muncul masalah yang semakin
serius, yakni kelangkaan air. Menyiasati situasi kritis seperti itu
sebuah tim peneliti dari Institut Leibnitz di bidang Ekologi Perairan
dan Perikanan Air Tawar –IGB di Berlin melakukan terobosan, dengan
mengembangkan pertanian Aquaponik gaya baru. Para peneliti Jerman sukses
dengan percobaannya, mengembangkan pertanian tomat dan budidaya ikan
air tawar yang ekologis dan hemat air. Dalam sebuah rumah kaca, para
peneliti mengembangkan standar baru dari siklus bahan pangan. Yakni
pertanian Aquaponik yang nyaris tanpa emisi.
Di
dalam sebuah rumah kaca di lokasi penelitian Berlin, terdapat kehidupan
simbiosis yang cukup istimewa. Di sana terlihat sepuluh kolam
penangkaran ikan yang terbuat dari kotak plastik berwarna hijau dalam
dua lajur, yang dihubungkan dengan jaringan selang. Dipadu dengan
jejeran pot-pot tanaman tomat berwarna perak.
Dr.Bernhard
Rennert yang merupakan pakar budidaya ikan air tawar dengan bersemangat
memberi makan ikan-ikan di kolam penangkaran tsb. Rennert menyebut
proyek kolam ikan itu sebagai Aquakultur yakni istilah dari akhir tahun
50-an yang populer di Jerman untuk menyebut budidaya ikan air tawar.
Sementara tanaman tomat dibudidayakan dengan sistem hydroponik.
Gabungannya disebuat Aquaponik.
Lebih
lanjut Bernhard Rennert menjelaskan : “Di sini kolam ikan paling muda,
yang setiap ekornya berbobot antara 25
hingga 30 gram. Ini ikan Tilapia sejenis ikan mujair dari Afrika,
dimana dalam aquakultur di kawasan tropis memainkan peranan amat besar.“
Ribuan
ikan Tilapia yang bersisik perak kemerah-merahan memenuhi kolam
percobaan di Institut Leibnitz Berlin. Ikan air tawar ini memproduksi
kotoran yang merupakan pupuk bagi tanaman tomat. Dengan memanfaatkan air
limbah dari kolam ikan, kebutuhan air dan pupuk bagi tanaman tomat
tidak lagi menjadi masalah.
Pimpinan
penelitian simbiose peternakan ikan dan kebun tomat di Berlin itu,
Prof. Werner Kloas menjelaskan : "Jika tanaman memerlukan air dan pupuk,
airnya diambil dari kolam aquakultur. Tanaman mendapat pupuk dari
kotoran ikan, yang terutama mengandung nitrogen dan fosfor. Dengan
makanan itu tanaman
tumbuh dan memproduksi buah tomat.“

Professor Werner Kloas (ki) dan Dr. Bernhard Rennert (ka) di depan kolam ikan dari peti
plastik-
Akan
tetapi sebelum air kolam yang mengandung pupuk bagi tanaman itu
digunakan mengairi tanaman tomat, airnya terlebih dahulu dibersihkan
dalam sebuah tong berwarna hitam. Tujuannya agar kotoran ikan yang
mengandung amoniak mengalami oksidasi. Dengan bantuan oksigen dan
bakteri, amoniak diubah menjadi nitrat. Dengan proses sederhana
nitrifikasi itu dari air kolam yang mengandung kotoran ikan diproduksi
pupuk super. Setelah dioksidasikan, barulah Nitrat dari limbah kolam
ikan dijadikan pupuk tanaman tomat. Dosisnya dapat diatur dengan tepat
menggunakan katup pengatur arus cairan pupuk.
Hasil
panen pertama ujicoba simbiose budidaya ikan dengan kebun tomat itu
boleh disebutkan mencapai rekor baru, yakni sekitar 600 kilogram tomat
dari rumah kaca yang tidak terlalu luas. Dan sekitar 150 kilogram ikan
Tilapia dari kolam kotak-kotak plastik. Dengan bangga para peneliti akan
memberikan oleh-oleh beberapa buah tomat ranum, kepada para tamu yang
mengunjungi rumah kaca tempat ujicoba.
Dengan
konsep pertanian terpadu, berupa gabungan kolam ikan dengan kebun tomat
itu, para peneliti di Institut Leibnitz Berlin bertujuan membuktikan
efektifitas metode siklus rantai makanan secara tertutup. Gagasan
utamanya adalah penghematan air dalam produksi bahan pangan. Kolam ikan
memasok
air serta bahan makanan bagi tanaman tomat. Dan tanaman tomat pada
gilirannya juga menyumbangkan air bagi kolam ikan. Lewat penguapan
melalui daun tomat, kondensat air yang terbentuk kembali dikumpulkan
lewat tiga buah peti pendingin yang dipasang di atap rumah kaca. Air
yang relatif bersih dari peti pendingin, dikembalikan lagi ke kolam
ikan.
Prof.Werner
Kloas menjelaskan lebih lanjut : "Karena kami di sini memiliki sistem
tertutup, kami dapat mengumpulkan uap air yang kemudian kami alirkan
lagi ke kolam budidaya ikan, dan dengan begitu sistemnya sangat hemat
air.“

Rumah kaca tempat ujicoba pertanian aquaponik modern
Wawasan
ke depan dari para peneliti di Berlin itu adalah, membangun sentra
produksi ikan dan sayuran di kawasan yang mengalami kelangkaan air. Agar
penemuan ilmiah itu tidak ditiru sembarangan, tim peneliti di Institut
Leibnitz telah mendaftarkan patent-nya. Sebuah perusahaan komersial juga
segera akan didirikan. Dewasa ini pertanyaan dan permintaan informasi
menyangkut pertanian
simbiosis gaya baru itu terus mengalir tidak hentinya. Prof. Kloas
meyakini, peluang sukses komersial dari metode yang mereka kembangkan
amat bagus.
Metode
budidaya Aquaponik yang dikembangkan IGB di Berlin menunjukan,
kebutuhan tambahan air bagi kolam-kolam ikan dapat diturunkan dari 25
persen menjadi tinggal tiga persen per harinya. Budidaya ikan Tilapia
juga dilakukan secara lebih ekologis. Yakni tidak menggunakan pakan
berupa tepung ikan maupun minyak ikan. Sebagai gantinya digunakan pakan
dari belatung lalat buah dan minyak nabati dari tanaman.
Metode
pertanian aquaponik sebetulnya tidak baru. Sejak tahun
1980-an para peneliti pertanian dari Swiss dan Australia sudah
melakukan ujicobanya. Akan tetapi para peneliti Jerman berhasil
menemukan sistem pertanian Aquaponik yang nyaris tanpa emisi. Selain
kombinasi ikan dan tomat, saat ini juga sedang dijajagi pertanian
Aquaponik dengan kombinasi lain.
Pimpinan
proyek penelitian Prof. Werner Kloas menjelaskan : “Mentimun merupakan
kandidat berikutnya, atau paprika. Atau di musim dingin, terdapat
alternatif tanaman bunga atau bumbu dapur, seperti kemangi yang dapat
ditaman di musim ini.“
Dengan
demikian, sistemnya dapat diterapkan secara optimal, jika juga
dibudidayakan
jenis ikan dan tanaman yang berbeda-beda, tergantung pada musimnya
maupun permintaan pasar. Sebab, selain segi teknisnya, juga sisi
pemasaran harus diperhatikan. Tujuannya, agar sukses teknologinya juga
membuahkan sukses komersial bagi petani.
sumber: Pertanian Aquaponik Modern | Iptek | DW.DE | 03.02.2009
Fathia S. R.
13/353823/PN/13507
A.3.2 / Kel. 4
Fathia S. R.
13/353823/PN/13507
A.3.2 / Kel. 4
Analisis Artikel Cyber Extension
BalasHapusNama : Nuzulya Ramadhani
NIM : 13379
Gol. : A.3.2
A. Adakah nilai penyuluhan?
• Sumber teknologi/ide : ada.
Yakni pengembangan teknologi aquaponik dengan mengembangkan pertanian tomat dan budidaya ikan air tawar dalam rumah kaca.
• Sasaran : ada.
Sasarannya secara langsung yakni para petani agar dapat meminimalisir penggunaan air dengan hasil yang maksimal.
• Manfaat : ada.
Dapat mengatasi masalah kekurangan lahan dan air dengan memanfaatkan rumah kaca yang tidak terlalu luas untuk budidaya pertanian dan perairan serta menciptakan sistem pertanian tanpa emisi.
• Nilai pendidikan : ada.
Sistem pertanian ini masih bisa dikembangkan lebih baik lagi dan merupakan teknologi budidaya yang sangat menarik untuk dipelajari.
B. Sebutkan dan jelaskan nilai berita yang terkandung dalam artikel
BalasHapus• Timelines : Berita yang disajikan tidak terlalu baru karena di posting pada tahun 2009 tapi masih menjadi teknologi atau teknik budidaya yang baru sampai saat ini.
• Proximity : Berita tersebut dekat dengan petani karena teknologi ditujukan untuk petani ataupun masyarakat yang ingin melakukan budidaya namun memiliki lahan dan air yang terbatas.
• Importance : Informasi yang di berikan sangat penting dan berguna untuk petani dan masyarakat karena sangat cocok di aplikasikan pada masyarakat modern yang ingin berbudidaya namun dengan cara yang mudah namun menghasilkan untung yang besar.
• Prominence : Teknologi ini sangat menarik karena ditemukan oleh peneliti yang berasal dari Negara lain yakni Jerman sehingga bersifat lebih modern dan canggih.
• Consequence : Teknologi ini memberikan keuntungan bagi petani karena dapat memberikan keuntungan yang besar dengan kebutuhan lahan dan air yang tidak banyak.
• Development : Berita yang disajikan merupakan suatu keberhasilan teknik budidaya baru karena telah terbukti memberikan hasil yang maksimal.
• Weather : Teknik ini tidak dipengaruhi oleh cuaca seperti kemarau karena tidak memerlukan air dalam jumlah besar.
Human interest : Penemuan teknik aquaponik ini sangat menarik minat masyarakat untuk mencobanya dan mengembangkannya agar teknik tersebut dapat dimanfaatkan dengan maksimal.
BalasHapus