Jumat, 19 September 2014

Pemasangan Alat Pemanen Kabut Karya Mahasiswa UGM Diperluas

Diunggah : Jumat, 25 April 2014 — Agung

Tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pemenang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dirjen Dikti 2014, kembali memperluas jangkauan alat pemanen kabut di Desa Kemitir Sumowono, Kabupaten Semarang. Langkah tersebut dilakukan menyusul pemasangan alat yang dilakukan tahun lalu, dengan bentang lebih kurang dua meter, dinilai berhasil menangkap air sebanyak lebih kurang 10 liter dari kabut yang berjalan selama 24 jam.

”Paranet (jala plastik-red) yang kami jadikan alat penangkap kabut bentangnya kami buat lebih panjang, dari dua menjadi delapan meter dengan sistem pemasangan seperti huruf L. Diharapkan, tangkapan uap air akan bertambah, bila dihitung dengan rumus tertentu paling tidak dalam semalam bisa menghasilkan air lebih dari 14 liter untuk keperluan pertanian,” kata Ketua Tim PKM Adopsi Teknologi Pemanen Kabut UGM, Vianita Meiranti Yogamitria, di sela-sela memasang perangkat di Dusun Ngoho, Kemitir, Sumowono, belum lama ini.

Dirinya bersama empat mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu lainnya, di antaranya Sarjono (Jurusan Ilmu Tanah), Musofa dan Puji Utomo (Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan), serta Nur Sayyidah Azzahra (Jurusan Penyuluh Komunikasi Pertanian) UGM, merasa tertarik mengembangkan teknologi tepat guna ini menyusul ada informasi bila petani di Desa Kemitir, Sumowono selalu kesulitan mendapatkan air pada Juli hingga Oktober. Dari hasil kajian yang dilakukan, diketahui bila wilayah Kemitir termasuk daerah dominan kabut meski siang hari.

Hemat Biaya

”Peralatan yang diperlukan sangat sederhana dan terjangkau, meliputi paranet, talang PVC, alat fertigasi tetes, dan selang kecil. Jika ingin menghemat biaya, penampang bisa menggunakan bambu bukan besi atau aluminium. Adapun air akan dialirkan dengan memanfaatkan gaya grafitasi, artinya tidak butuh alat khusus namun hanya mengandalkan akurasi hitungan saja,” papar Vianita Meiranti.

Melihat hasil capaian yang dilakukan oleh mahasiswa, Kepala Desa Kemitir, Puji Utomo menyambut baik dan berencana akan menyampaikan kepada warga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani sayur. ”Sumur bantuan pemerintah tidak ada airnya ketika kemarau, karena wilayah kami berada di ketinggian lebih kurang 1.400 meter di atas permukaan laut. Dengan begitu, airnya mengalir ke wilayah yang lebih rendah,” ungkapnya.

Di sisi lain, salah satu petugas fungsional penyuluh pertanian dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Agus Sutanto menandaskan, pihaknya berjanji akan mengadopsikan pengembangan teknologi mahasiswa UGM tersebut ke wilayah yang dirasa potensial sebagai tangkapan kabut. Kabut tidak hanya ditemukan di dataran tinggi di Jawa Tengah seperti Kabupaten Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, dan Kabupaten Purbalingga.

”Tetapi bisa juga ditemukan di dataran rendah, misalnya di sekitar Bandara Ahmad Yani Semarang yang notabene sering terjadi kabut. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan perangkat itu bisa ditempatkan di sekitar bandara selain di perbukitan,” tandas Agus. (Humas UGM/ Agung)


3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. ANALISIS ARTIKEL CYBER EXTENSION

    Nama : Ramdhana Karimah
    NIM : 13/346049/PN/13147
    Golongan : A3.2
    Kelompok : 3

    a. Adakah nilai penyuluhan

    • Sumber Teknologi / ide
    Alat pemanen kabut merupakan teknologi inovatif yang mampu menangkap dan mengumpulkan air dalam kabut, sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, utamanya di bidang pertanian. Teknologi pemanen kabut yang dikembangkan sangat sederhana. Hanya berbentuk jaring dari poliprofilen berbahan plastik yang ditopang dengan dua tiang penyangga. Alat pemanen kabut ini bekerja secara manual sebagi penjerat atau penangkap kabut. Kabut di udara yang tertangkap jaring, kemudian dialirkan melalui paralon yang selanjutnya ditampung dalam jeriken. Dimana dalam pengaplikasiannya dikombinasikan dengan alat fertigasi tetes. Teknik fertigasi tetes adalah salah satu teknik irigasi tetes yang lebih efisien dan lebih mudah di jangkau masyarakat, murah dan mudah dibuat karena modelnya yang sederhana, namun cukup ampuh dalam mengonversi kabut menjadi air yang dapat di gunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pertanian.
    • Sasaran
    - Sasaran langsung yaitu para petani dimana diharapkan para petani tidak lagi kesulitan mendapatkan air untuk pertanian.
    - Sasaran tidak langsung yaitu PPL, Pamong desa dan pihak lain yang berhubungan dengan pertanian, dimana diharapkan dapat memberikan informasi kepada para petani untuk memanfaatkan teknik ini sehingga tidak ada lagi lahan pertanian yang mengalami kekeringan karena sulitnya untuk mendapatkan air.
    • Manfaat
    Dapat mengatasi gagal panen akibat kekeringan, sehingga petani/masyarakat tidak harus bersusah payah mendapatkan air untuk pertanian.
    • Nilai Pendidikan
    Petani dapat menerapkan teknologi panen kabut untuk mengatasi permasalahan gagal panen yang disebabkan kekeringan. Teknologi ini dirancang untuk mampu menangkap dan mengumpulkan air dalam kabut sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masayarat, dan pada akhirnya mengatasi kekeringan pada musim kemarau. Metode yang digunakan Standard Fog Collector (SFC) atau Kabut Kolektor adalah suatu alat untuk mengumpulkan air dari kabut menggunakan jaring halus.

    BalasHapus
  3. ANALISIS ARTIKEL CYBER EXTENSION

    Nama : Ramdhana Karimah
    NIM : 13/346049/PN/13147
    Golongan : A3.2
    Kelompok : 3

    b. Sebutkan dan Jelaskan nilai berita yang terkandung dalam artikel

    • Timelines : Berita yang disampaikan bukan hal yang baru karena kegiatan panen kabut ini telah lama dilakukan. Dalam tulisan telah di terangkan bahwa kegiatan ini hanya memperluas alat pemanen kabut, dimana pemasangan alat sebelumnya telah dilakukan pada tahun lalu.
    • Proximity : Tulisan ini sangat dekat dengan sasaran, karena isi dari tulisan ini merupakan pemecahan masalah yang selama ini dialami oleh para petani yang sering gagal panen yang diakibatkan kekeringan.
    • Importance : Informasi pada tulisan ini sangat penting karena dapat menambah pengetahuan kepada khalayak terutama kepada para petani yang sering gagal panen karena kekerinagn. Sehingga kedepannnya diharapkan kasus gagal panen karena kekeringan tidak akan terjadi lagi.
    • Consequence : dengan adanya penerapan teknologi panen kabut ini sangat menguntungkan bagi para petani, terutama bagi para petani yang selama ini menghadapi masalah kekeringan permanen setiap musim kemarau.
    • Conflict : Sebelum adanya penerapan teknologi panen kabut di Dusun Ngoho, desa Kemitir, Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang, masyarakat disana mengatasi permasalah kekeringan dengan pembuatan sumur artesis sedalam 200 m tetapi tetap masih belum memberikan hasil. Setelah penerapan teknologi panen kabut ini, petani mendapatkan air sebanyak kurang lebih 10 liter dalam satu malam dengan menggunakan paranet kurang lebih dengan bentang 2 meter.
    • Development : Keberhasilan dalam penerapan teknologi panen kabut ini dapat terlihat nyata, hal ini dapat dibuktikan dari diperluasnya alat panen kabut
    • Weather : Dalam tulisan dijelaskan bahwa teknologi panen kabut tidak hanya dapat ditemukan di dataran tinggi saja misalnya di Jawa Tengah seperti Kabupaten Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, dan Kabupaten Purbalingga. Tetapi bisa juga ditemukan di dataran rendah, misalnya di sekitar Bandara Ahmad Yani Semarang yang notabene sering terjadi kabut. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan perangkat itu bisa ditempatkan di sekitar bandara selain di perbukitan
    • Human interest : Tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pemenang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dirjen Dikti 2014, yang memprakarsai teknologi panen kabut ini dapat memberikan inspirasi serta memacu semangat bagi khalayak terutama generasi muda untuk terus berusaha dan berjuang dalam mengembangkan ide kreatifnya yang bertujuan untuk memecahkan permasalahan yang berkembang di masyarakat.

    BalasHapus